solli's Blog

Just another WordPress.com weblog

MENEMBUS DERASNYA HUJAN

Kehidupan adalah sebuah tarian waktu yang tak kenal waktu dan egois. Waktu tak akan pernah berkompromi dengan kita, namun kitalah yang harus berkompromi dengan waktu. Ia bergerak, berjalan, meloncat, bahkan berlari tanpa memperdulikan substansi di dalamnya. Siapakah substansi itu? Substansi itu adalah aku, kamu, kalian, dia dan kita semua…

Ku tulis itu semua dalam sebuah catatan kecil dalam buku yang senantiasa kubawa ke mana saja aku pergi. Mungkin ini sebuah ekspresi kedongkolanku terhadap titian waktu yang senantiasa mewarnai seluk beluk hidupku atau ini adalah wujud penyesalanku atas kelengahan diri sehingga aku telah terpedaya dipecundanginya aku olehnya namun ku tak sedikit pun berdaya. Teringat terlalu banyak ternyata hal bodoh yang aku lakukan tanpa sadar menjerumuskanku ke dalam sebuah kemaksiatan yang mendatangkan laknat Allah Swt. Seolah aku pun telah siap menggali kuburan kebinasaanku kelak pada hari akhir, tak terbayang bahagianya diriku jika hidayah Allah tak berkenan menghampiri jiwa ini yang terlalu berdebu sehingga membutakan matahati ini. Engkau ya Rabb, telah menunjukkan kasih sayang yang tak ternilai dengan menganugerahkanku seorang Ayah yang ternyata kusadari ialah sosok yang terbaik yang pernah aku miliki walaupun tak pernah sedikitpun aku memberikan simpatik padanya karena butanya matahati ini yang tak dapat menggambarkan kelembutan hatinya, dan kemurnian cintanya. Sayangnya aku tak pernah mengakuinya hingga hidayah-Mu pun tak kunjung datang menghampiri diriku.

Saat ini pun sesungguhnya aku tak mampu memaafkan diriku sendiri, setelah selama ini begitu derasnya diri ini menghujam perasaan ayahku, begitu gencarnya petir keangkuhanku menyambar relung hatinya dengan segala bentuk prasangka buruk yang aku sendiri sesungguhnya tak mampu bertahan apabila hal ini terjadi kepadaku.

Aku tidak memungkirinya bahwa pada awalnya aku kecewa kepadamu wahai ayah, bagaimana tidak? engkau telah merampas hak kebebasan seorang remaja sepertiku termasuk salah satunya untuk menjalin kasih kepada siapa pun termasuk kepada wanita yang selama ini aku kagumi. Mengapa engkau bersikeras untuk menahanku menjadi seperti ini, dipenjara dalam sebuah batas-batas syariah agama seakan itu adalah sebuah doktrinasi yang harus aku telan mentah-mentah dan menjalaninya dengan setengah hati tanpa memberikanku manfaat langsung jika aku mentaatinya. Namun engkau senantiasa mengatakan bahwa sekecil apapun amal pasti akan dimintai pertanggung jawabannya kelak pada hari yang engkau tidak akan luput dari genggaman-Nya. Aku pun merasa jengkel hingga terkadang aku menimpali kata-kata ayahku dengan sebuah pertanyaan aneh yang menurutku sedikit menggelikan tentang hal tersebut seperti “sekecil apakah ayah? sekecil cacing, atau siput atau amoeba…” kurasa dengan pertanyaan tersebut aku sedikit terhibur karena kulihat tatapan ayahku yang pasrah akan kebodohan diriku.

Diriku memang liar, semakin banyak aku dinasehati oleh ayah semakin aku menyadari bahwa sesungguhnya watak diri ini adalah watak seorang pemberontak. Pemberontak akan suatu hal yang ku anggap salah, termasuk waktu aku masih Jahil

akan segala hal yang beraromakan spiritual, dengan sangat bodonya aku mengatakan bahwa ini bukan suatu hal yang penting. Bagiku kesenangan dunia ini lebih penting dan lebih terasa nikmat dibandingkan dengan bergelut dengan sarung, Al quran, peci dan puasa yang sangat menyiksa. Aku telah mendeklarasikan diri menjadi seorang yang hedonisme dengan segala bentuk kenikmatan di dalamnya sehingga aku merasa nyaman menurut caraku sendiri. Namun, lagi-lagi engkau wahai ayah yang senantiasa hadir untuk menjadi seorang penjagal kesenangan yang aku rasakan dengan duniaku hingga akhirnya sebuah kesadaran yang sudah sangat terlambat.

Terakhir kali aku melihatmu menangis di sampingku. Tetesan air matamu menggambarkan kesedihan berbaur dengan sebuah kekecewaan. Sebuah kekecewaan seorang ayah yang tak dapat memberikan segala hal yang terbaik untuk anaknya hingga sekarang jasadku terkapar tak berdaya pucat pasi. Jiwaku tercengang dan merenung terpisah dari jasadnya, hanya penyesalan yang tak terbendung menyelimutiku sekarang, sebuah penyesalan yang tak berarti walaupun segala yang ada di bumi dan seluruh jagat raya menebusnya. Namun, ku yakin itu tak akan mampu membayar segala kehinaan diriku.

Kegetiranku memuncak ketika dua sosok yang sangat bersih namun sangat garam melihatku dan menghampiriku. Diriku takut tak terkira hingga mereka bertanya tentang Tuhanku, Rosulku, Kitabku, Qiblatku, dan Agamaku. Aku tak berdaya berhadapan dengannya, tampak kekakuan menyerangku dan aku tak dapat berpatah kata sedikit pun.  Aku sudah terlambat…

S.D. Murtyas

Juli 13, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

JUJURLAH PADA JANJI HAKIKI

Baca lebih lanjut

Juli 6, 2009 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

JUJUR PADA JANJI

Baca lebih lanjut

Juli 6, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Senja Tak Berwarna Jingga

Mentari tertunduk malu membenamkan sosoknya dalam pelukan bumi dan membiarkan malam mulai menyapa mengisi ruang hampa alam ini. Memang sebuah keagungan Allah yang luar biasa indah ketika melihat itu semua. Mengecilkan diri ini dan membuat hati ini menciut memikirkan kebesaranNya. Farhan mencoba menenteramkan hati di tengah galau hati yang melandanya. Sebuah kenyataan yang tak dapat ditelannya mentah-mentah bahwa istri yang sangat ia sayangi dan cintainya itu telah dipanggil oleh Allah untuk selama-lamanya. Namun apa daya, sebuah renungan dan meratapi kesedihan hanya bermuara pada ketidaklapangan kita untuk menerima takdir yang sudah digariskan oleh Sang Arstitek kehidupan.

Hati Farhan menangis tak terperi, ia sangat merindukan Disti. Seseorang yang telah bersemayam di  hatinya selama lima tahun. Bersamanya ia telah merasakan sebuah getir dan manis madu kehidupan. Baginya Disti adalah permata hati yang senantiasa berkilau dan menerangi kehidupannya. Ia sangat shock istrinya meninggal terlalu cepat. Farhan terlalu mencintainya, merasa memiliki lebih dari apa pun. Hingga ia merasa takut kehilangan sosok seorang istri yang menjadi belahan jiwanya itu.

Sangat wajar bila Farhan masih tak dapat menerima kenyataan yang ia alami. Seorang istri yang paling ia cintai kini tak ada lagi di sampingnya untuk melangkahkan kaki berjuang bersama menghadapi kerasnya kehidupan dunia. Sosok yang menjadi pelita hati, yang menuntun dirinya menjadi seorang yang berarti dalam kehidupan ini. figur yang membawa kesejukan kalbu, memapahnya dalam sebuah kebersamaan untuk berjalan menuju keridhoan Allah.

* * *

Disti telah meninggal seketika setelah Garuda yang ia dan Farhan tumpangi lepas kendali dan akhirnya oleng menabrak lereng bukit di daerah Jambi. Sebuah kebesaran Allah, Farhan yang ketika itu duduk tepat di samping kanannya. Sedangkan di samping kiri istrinya terdapat seorang turis asing berambut hitam berkulit sawo matang. Farhan menjadi satu-satunya penumpang yang selamat dalam tragedi yang memilukan tersebut.

Sesaat memang Farhan sempat melirik dan menjamah sekitar dalam pesawat yang terlihat aman dan tidak ada masalah sama sekali. Bahkan ia dengan tenangnya mengambil foto menggunakan kamera digital yang dibawanya. Di kamera tersebut tertulis “Farhan & Disti in Salatiga”. Difotonya sekitar kabin pesawat dari tempat duduknya dan terkadang ia memotret ke luar pesawat lewat jendela. Terlihat awan saling balap mengikuti laju pesawat yang berada lebih dari dua ribu meter dari permukaan laut.

Tiba-tiba seorang pria nampak berlari tergesa-gesa dari kabin depan. Pria tersebut melintas menuju tempat duduk Farhan, Disti dan seorang asing tadi yang duduk di sebelah kiri Farhan yang berjajar tiga berada di sebelah kiri pesawat. Ia dengan sangat cepat terlihat mengisyaratkan sebuah gerakan sandi ke arah kami bertiga. Entah apa maksudnya, namun seketika orang asing di sebelah Disti tadi langsung beranjak pergi dengan sama paniknya seperti orang yang baru melintas di tempat duduknya. Tanpa sadar orang asing itu meninggalkan sebuah benda mirip dompet namun tidak nampak uang terdapat di dalamnya. Benda itu terpental ke bawah bangku di depan tempat duduk Disti. Ketika Disti hendak beranjak menggapai benda tersebut, segera digenggam tangan istrinya itu oleh Farhan dan ia mencoba menggapainya dengan kedua tangan dengan melepaskan pengaman yang melilit di pinggangnya. Sedangkan Disti mencoba memanggil orang asing yang nampak semakin jauh berlari. Tetapi ternyata orang itu tidak menengok sedikit pun.

Ketika Farhan berhasil menggapai benda asing itu, langsung terdengar suara sirine tanda darurat dan dengan serta merta pesawat pun langsung bergoyang hebat. Disti tak mampu bertahan di posisinya hingga ia terpental karena sabuk yang dikenakannya terputus, ia terpental menuju jendela karena goncangan tersebut. Sedangkan Farhan yang telah mendapatkan benda asing itu mencoba menggapai tangan istrinya itu namun gagal. Farhan terseret menuju kolong-kolong bangku kabin dalam pesawat karena pesawat dalam keadaan miring. Seluruh bagasi tempat tas dan koper disimpan terbuka dan menghamburkan apa yang ada di dalamnya. Sebuah peristiwa yang sangat dasyat dan menakutkan dan akhirnya pesawat terjatuh dan menabrak sebuah lereng bukit di Jambi.

Hanya itu kejadian yang Farhan ingat sesaat setelah koma selama dua dari kecelakaan maut tersebut ia tersadar di sebuah kamar dalam rumah sakit. Mulutnya tak mampu berkata seketika karena suatu hal yang mencengangkan bahwa ia baru mendapat laporan dari tim evakuasi korban kecelakaan pesawat menjelaskan salah satu korban meninggal adalah istrinya. Dan dia adalah satu-satunya korban selamat dalam kecelakaan itu. Sedangkan terdapat empat orang dinyatakan hilang.

Berhari-hari ia menghabiskan waktu untuk termenung dan meratapi kesepian yang menjadi teman karibnya. Di tangan kirinya menggenggam benda seperti dompet  yang sempat dijatuhkan oleh orang asing berkulit sawo matang ketika ia berada di pesawat maut itu. Seakan sebuah wacana yang tak ingin diingatnya kembali. Sebuah anggapan Farhan bahwa benda yang ia pegang tersebut yang telah menyebabkan dirinya tak mampu menggapai tangan istrinya tercinta. Semakin ia mencoba mengingat kejadian itu, seolah ia menjadi manusia paling tidak berguna sama sekali karena tak dapat memberikan perlindungan sama sekali kepada Disti.

Dilihatnya dengan teliti benda menyerupai dompet itu. Ia beranggapan ini sebuah ID yang dimiliki oleh orang asing tersebut. Karena setelah ia membukanya, ternyata tertera nama Ariel Fitzgerald dan tulisan Agen M12. Farhan sungguh tak mengerti apa arti AGEN M12 ini, ia berfikir mungkin ini adalah ID seorang karyawan luar negeri yang menjadi agen di bagian ke dua belas dengan inisial M.

Tak terlalu pusing Farhan memikirkan tentang ID tersebut dan tetap ia memutuskan untuk membawanya, akhirnya setelah ia keluar dari rumah sakit dan pulang ke daerah asal di Salatiga. Menikmati panorama langit seolah memberikan sebuah jawaban akan segala kegundahan hati yang ia alami. Berharap masih ada asa untuk menyemangati hidupnya yang kini tinggal sebagian.

* * *

Seketika ia terhenyak oleh sahutan salam yang terdengar dari luar rumah. Terlihat olehnya seorang paruh baya berjenggot tebal dengan pakaian muslim berwarna hijau kusam. Nampak oleh Farhan orang ini berpostur tubuh tidak seperti orang di sekitar rumah yang biasa ia jumpai. Badannya tinggi besar, kulitnya berwarna cokelat gelap dan wajahnya bersimbah peluh oleh keringat. Raut mukanya pun tidak seperti orang kebanyakan, terkesan seperti keturunan timur tengah atau daerah sekitarnya.

Orang tua itu membawa secarik map biru yang kondisinya terlihat tak menarik karena terlalu lama map tersebut digenggamnya. Di dalam hati Farhan menebak dan meyakinkan diri bahwa orang tua ini adalah pengemis atau peminta sumbangan mesjid atau sejenisnya. Sungguh sangat ironis memang, terdapat perasaan iba di dalam hati Farhan atas kondisi orang tua ini, namun juga tersirat rasa curiga di dalam benaknya khawatir bahwa orang ini adalah seorang penipu yang mengatasnamakan meminta sumbangan atau shadaqoh.

“Permisi mas, boleh saya berbicara sebentar?” tanya orang tua itu sambil menghempaskan keringat yang dari tadi mengalir melintas di wajahnya.

“wa’alaykumussalam, iya ada apa pak?” jawab Farhan mencoba menghilangkan kesan curiga terhadapnya.

“begini mas, saya mau menawarkan perdagangan yang luar biasa keuntungannya untuk mas?”

“perdagangan atau keuntungan seperti apa ya?” Tanya Farhan penasaran.

“Sebuah perdagangan yang menjamin kehidupan mas akan bahagia di dunia dan di akhirat?

“saya sangat tidak mengerti apa yang bapak bicarakan?”

“saya mau menawarkan mas berdagang dengan Allah, cukup dengan Allah saja, tidak dengan saya atau dengan orang lain? Jelas sang orang tua singkat.

“Apa? Berdagang dengan Allah? Barang atau jasa apa yang akan saya jual untukNya? Sungguh bapak ini sangat tidak masuk akal!”

“cukup mas berjihad dengan harta dan jiwa, itulah barang dan jasa yang mas tawarkan untuk Allah yang Maha Agung!” papar orang tua tegas.

“Sungguh, saya masih belum mengerti apa yang bapa jelaskan, apakah saya harus berjihad perang atau sejenisnya? Jujur saya tidak sanggup untuk itu” kata Farhan.

“Semoga Allah memberikan hidayah kepadamu agar engkau diberikan sebuah pengertian tentang apa yang engkau belum mengerti.” Jelas bapak tua tersebut.

“Assalamu’alaikum” bergegas sang orang tua pergi.

Percakapan tadi menjadi sebuah renungan yang sangat sulit dipecahkan bagi Farhan. Berkali-kali ia mencoba sadar atau setidaknya mengerti tentang hakikatnya berdagang dengan Allah, namun sekian kali tersebut ia menemukan sebuah kebuntuan. Kebuntuan yang berujung pada sebuah pertanyaan “apa untungnya bagi saya berdagang dengan mengorbankan harta dan jiwa yang saya miliki? Jika memang keuntungan saya dapatkan, apakah itu sebanding dengan pengorbanan saya?” sungguh pemikiran yang pragmatis memang.

Di tengah kesepian setelah kepegian istrinya. Ternyata Allah masih menunjukkan kasih sayang kepadanya. Cahaya hidayah tak pernah luput menaungi dirinya. Cahaya yang membuat Farhan tersadar bahwa sesungguhnya di dunia tak ada yang abadi. Semua makhluk yang hidup pasti mati. Begitu pun istri yang sempat menemaninya selama lima tahun itu. Sungguh tak layak baginya untuk merasa memiliki segala hal yang ia punya selama ini. Semua ini milik Allah, dan sebuah hak mutlak Allah untuk menentukan segalanya sekali pun mencabut nyawa sang istri yang sekarang masih di naungi awan mendung kesepian batinnya. Berdagang dengan Allah  ternyata kunci keikhlasan yang ia petik sekarang. Sungguh ia sangat bersyukur beberapa waktu lalu ada seorang yang mengingatkannya, orang tua yang berjenggot lebat dan berwajah timur tengah tersebut kini menggelayuti pikirannya. Berharap Farhan dapat dipertemukan kembali oleh Allah dengannya. Untuk sekedar mengucapkan terima kasih.

* * *

Farhan mencoba mengawali kebiasaannya untuk solat berjamaah di mushola terdekat mushola tersebut bernama Al ikhlas. Sebuah kata yang bagus memang, kata yang menjadi kunci kebahagiaan dunia dan Akhirat.

Jam di dinding kamarnya menunjukan jam setengah lima pagi. Terdengar suara azan yang pada awalnya memekakan telinga namun semakin lama semakin syahdu terdengar. Tanpa menyia-nyiakan panggilan solat tersebut Farhan bergegas ke kamar mandi kemudian bersiwak dan mengambil air wudhu dan segera bergegas ke mushola Al Ikhlas.

Betapa terkejutnya Farhan. Ternyata imam solat subuh pada saat itu adalah seorang yang pernah ia kenal. Seorang bapak tua yang tempo hari memberikan petuah luar biasa. Petuah yang membuat dirinya gemar memperbaiki diri. Farhan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. setelah solat ia segera menemui pak tua tersebut. Azamnya ialah untuk mengucapkan terima kasih.

* * *

Rutin sekali Farhan berdiskusi dengan Ustadz yang menjadi Imam sementara di Mushola Al Ikhlas di belakang sepetak tanah yang ia jadikan kebun terong yang digarap oleh tetangganya. Seorang yang berjenggot tebal dan berwajah ketimurtengahan itu ternyata ustadz Yusuf. Ia berumur 58 tahun dan lahir di tanah Afgan. Ia adalah seorang perantau tiga negara. Yaitu Afganistan di mana tempat ia dilahirkan, kemudian Palestina di mana ia menuntut ilmu dan menikah dengan wanita setempat. Namun sayang setelah baru dua tahun ia menikah dengan wanita yang sangat ia cintai itu, takdir tak dapat di tolak. Ia menerima kenyataan yang pahit bahwa istrinya telah menghilang tanpa sebab yang jelas. Kemudian setelah ditelisik ternyata kenyataannya istri yang terkasihnya itu syahid dengan melakukan bom bunuh diri di kota Raffah. Betapa sakitnya hati sang ustadz ketika pertama kali mendengarnya, batinnya tidak menerima. Kehilangan orang yang paling dicintainya itu di dunia. Ketiga negara perantauannya adalah Indonesia, ia telah tinggal selama lebih dari lima tahun di sini semenjak istrinya meninggal. Ia mencoba menghapus kenangan indah namun menyakitkan hingga ia merantau dan mengubur semua itu dan memulai kehidupan baru di Indonesia. Itu semua paparnya terhadap Farhan. Sedangkan ia datang ke Salatiga baru beberapa pekan ini. Sekedar menjalankan misi dakwah katanya.

Farhan sudah sedikit mengalami kemajuan dalam hal ruhiyyah. Setiap hari ia tak pernah absen menunaikan solat fardu di mushola tersebut. Dan biasanya bada subuh ia kerap kali menghadiri kuliah subuh yang diisi oleh ustadz Yusuf. Jiwanya makin terasah dan tegar dalam menghadapi kehidupan yang harus ia jalani. Sebuah amanah dari sang Khaliq untuk memanfaatkan kesempatan kehidupan di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Karena hakikatnya, kehidupan ini adalah mosaik-mosaik kemurahan Allah yang dianugerahkan kepada setiap hambaNya untuk senantiasa memperbaiki diri untuk bekal kematian yang pasti.

“Sehalus-halus kehinaan di sisi Allah adalah tercabutnya kedekatan kita dari sisi-Nya. Sungguh merugilah insan yang tidak bisa merasakan keindahan dan ketenteraman hati ketika Allah dengan kemurahanNya bersedia mendekat kepada kalbu yang masih berdebu berlapis dosa”. Begitulah kata ustadz Yusuf kepada Farhan yang masih berada di mushola usai beliau memberika kuliah subuh kepada jamaah solat subuh.

Sungguh sangat menyejukkan tutur kata yang diucapkan oleh Ustadz Yusuf. Tidak mengherankan jika ia menjadi orang yang paling disegani oleh penduduk desa, termasuk Farhan. Tidak ada kecurigaan sama sekali untuk ustadz yang pernah bersekolah di Gaza untuk menempuh jenjang sarjana ini, ia sangat mempunyai karisma seorang jundi Allah. Seorang yang tak kenal lelah untuk menjadi jalan hidayah Allah kepada orang-orang sekitarnya. Itu semua ada dalam benak Farhan tentang sosok ustadz Yusuf.

Suatu hari sebuah tawaran yang menarik dari Farhan untuk mengajak ustadz Yusuf berkunjung ke rumahnya untuk minum teh sekaligus memetik terong yang sudah matang untuk dijual dan hasil penjualannya nanti akan digunakan sepenuhnya oleh ustadz Yusuf mengingat beliau adalah seorang musafir yang sedang berusaha berdakwah di desanya. Sungguh sebuah kehormatan bagi ustadz Yusuf dilayani dengan sangat spesial oleh Farhan. Dan kemudian beliau mengiyakannya dengan senang hati tawaran Farhan tersebut.

Keakraban semakin terlihat di antara mereka. Farhan mengobrol banyak tentang almarhumah istrinya sampai kejadian tragis yang menimpa dirinya hingga ia menjadi seorang diri. Ia pun bercerita pada ustadz Yusuf tentang hobinya memotret. Farhan memperlihatkan semua gambar yang pernah ia ambil dari kamera digital yang bertuliskan nama dan istrinya kepada ustadz Yusuf. Dari ia mulai menikah hingga gambar-gambar ketika terakhir ia bersama istrinya di dalam pesawat maut itu.

Ustadz Yusuf pun bercerita mengenai almarhumah istrinya yang dengan sangat berani meledakkan dirinya sendiri demi membela tanah air Palestina-nya.

“ saya sangat menyayangkan kejadian itu, istri saya bahkan tidak pamitan kepada saya untuk melakukan tindakan brutal tersebut!” ucapnya penuh dengan penyesalan.

“Baiklah tadz, kita di sini tidak untuk bernostalgia tentang kesedihan yang pernah kita alami, tapi kita ngobrol panjang lebar di tempat ini insya Allah untuk meningkatkan keakraban di antara kita agar di yaumil akhir nanti kita bisa saling membela satu sama lain.” Respon Farhan.

“Saya akan buatkan teh untuk menghangatkan suasana antara kita, apakah itu ide bagus?” tawaran Farhan kepada ustadz Yusuf

“oh ide yang cemerlang akh !”

“tapi izinkan saya membuatkan teh yang spesial untuk anda karena telah melayani saya dengan sebaik-baiknya!” jawab ustadz Yusuf.

“baik, silakan pak ustadz masuk ke dalam dan terdapat ruang tamu dengan satu TV di dalamnya kemudian pak ustadz langsung berjalan ke kiri, di situ dapur dan tempat teh dan gulanya terdapat di lemari cokelat di pojok kiri atas”

“saya akan memetik terong yang sudah ranum selagi pa ustadz membuat teh, sehingga nanti kita pun akan mempunyai banyak waktu untuk ngobrol lagi” papar Farhan panjang lebar.

“Ok!”

Segera ustadz Yusuf menuju ke dalam rumah Farhan sedangkan Farhan menuju kebun terong yang berada di belakang rumahnya.

Dengan sangat cermat, ustadz Yusuf menjamah tiap sudut rumah dengan pandangan yang tajam. Ia tidak langsung menuju dapur untuk membuat dua cangkir teh. Namun ia bereksplorasi ke beberapa tempat di dalam rumah Farhan. Nampak ada sesuatu yang ingin dicarinya. Kemudian ia masuk ke kamar Farhan dan kemudian secara tak sengaja ia menemukan barang yang dicarinya di sebuah laci lemari. Segera ia menuju ke dapur untuk membuatkan teh. Dikeluarkannya sebotol kecil dari saku baju dalam yang berbentuk seperti botol minyak wangi lima ribuan. Ternyata itu adalah sebotol kecil racun sianida yang mematikan untuk manusia. Kemudian segera diolesinya racun tersebut pada tepi cangkir yang disiapkan untuk Farhan. Niat buruk yang telah direncanakan setelah kejadian kecelakaan pesawat itu kepada Farhan tinggal selangkah lagi menuju keberhasilan.

Ustadz Yusuf beranjak ke luar rumah menuju teras tempat di mana ia dan Farhan ngobrol tadi. Berusaha untuk santai seolah-olah tidak ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. Terlihat Farhan pun telah mendapatkan satu karung terong yang telah siap dijual oleh ustadz Yusuf. Farhan segera beranjak menuju teras dan kembali duduk bersila di hadapan teh yang telah disiapkan oleh ustadz Yusuf. Segera ia menawarkan Farhan untuk meminumnya.

“Antum nampak sangat lelah akh, silakan cicipi teh spesial yang ana buatkan untuk antum!”

“oh, syukron katsir !” jawab Farhan.

Segera Farhan meraih secangkir teh yang ada di hadapan dan menyeruputnya dengan sangat nikmat walaupun masih terlalu hangat untuk meminumnya sekaligus. Tampak senyum yang tersembunyi pada ustadz Yusuf yang kebetulan melakukan hal yang sama dengan Farhan yaitu menyeruput teh yang di pegangnya secara perlahan.

Beberapa saat kemudian terasa oleh Farhan suatu hal yang tidak beres di lehernya. Seluruh urat lehernya terlihat nampak tegang, matanya melotot merah, dan tubuhnya bersimbah peluh keringat yang sangat.  Sesaat mulutnya langsung keluar busa putih dan ia jatuh seketika kejang-kejang. Farhan mati seketika.

Ustadz Yusuf langsung beranjak pergi tanpa membuang-buang waktu. Sangat dingin sekali perilakunya setelah meracuni Farhan. Namun ketika ia sampai di pintu gerbang rumah Farhan, ia kembali dan mengambil beberapa gambar hasil pemotretan Farhan ketika di pesawat. Segera ia memilah beberapa gambar yang ternyata ada sebuah gambar bukti dari kegiatan pembajakan pesawat Garuda yang tidak mulus yang menyebabkan pesawaat itu menabrak lereng bukit di Jambi. Kemudian setelah mendapatkan semua yang diinginkan, ia berjalan menjauh menuju gerbang keluar rumah Farhan.

Ketika sosok mayat Farhan yang mati seketika karena diracun dengan asam sianida mulai tak terlihat, ustadz Yusuf mengeluarkan telepon genggam yang berlabel Agen Mossad 12 dengan tangan kanannya dan menghubungi seseorang.

“Misi pembunuhan saksi telah dilaksanakan. Pembunuhan berjalan dengan lancar tanpa ada orang yang melihat. Semua bukti sudah ada ditangan saya. Sekarang tinggal bantu saya untuk keluar dari negeri yang bodoh ini” ucapnya tanpa ada keraguan sama sekali. Di tangan kirinya ia menggenggam sebuah benda berbentuk dompet berwarna hitam yang diambilnya dari kamar Farhan bertuliskan “ ID of Ariel Fitzgerald, Agen M12”.

Dari dalam telepon genggam terdengar

“kerja bagus Agen Ariel, misi kita untuk terus menghancurkan umat Islam akan terus berlanjut!”.

Juli 1, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

IDEALISME SEBUAH PETIKAN GITAR


-Sebuah cerpen-

Di dalam sebuah kamar yang pengap tanpa fentilasi udara yang dapat mengalirkan hawa panas yang beberapa saat lalu sudah mulai terasa. Pada sebuah kesendirian  aku termenung meratapi diri sendiri dan beribu-ribu jejak langkah yang kaki ini telah tapaki dalam medan kehidupan dunia yang fana’ ini. Sungguh perkataan ibu tadi telah merongga dalam hatiku kini, betapa terkejut diri ini mendapati beliau berkata hal itu dan tak pernah habis pikir aku membayangkan seorang ibu yang kupercaya dapat menjadi sandaran jiwa di tengah keputusasaan yang menerpa tumpukan asa yang tersimpan dan senantiasa kujaga.

Kesabaran ibu tidak terbendung lagi, terjangan badai kejenuhan melihat kehidupanku yang terlihat tanpa makna telah meluluh-lantahkan ketabahannya. Aku yang kini masih belum bisa keluar dari naungan ketidakpastian menunggu secerca cahaya asa yang akan membuat kehidupankan akan menjadi lebih baik. Sekian banyak kecewa ini tercecer dalam benak dan aku tidak dapat berbuat apa-apa meratapi takdirku yang memang terlihat seperti ini. Sungguh bukan inginku seperti ini. Sekian banyak surat lamaran pekerjaan menjadi buruh pabrik industri yang mungkin hampir setiap pekan kualirkan dan berharap aku mendapat panggilan untuk mengikuti tes atau setidaknya kabar mengenai apa telah terjadi dalam surat lamaran pekerjaanku saat ini. Setelah lama menunggu, akhirnya ku dapati semua itu hanya nihil.

Bosan melihatku senantiasa di rumah membuat ibu sedikit geger dan akhirnya kejengkelannya yang membuncah diluapkannya padaku tadi pagi. Sekali lagi tak habis pikir aku membayangkan ini. Kata-katanya terlalu dalam menusuk rongga hati ini. Ia pun berucap.

“Nak, tahukah engkau jika selama ini ibu terlampau banyak berharap kepadamu? Mungkin ini sedikit mengecewakan namun ibu sungguh jenuh dengan sikap sabar ibu melihat engkau meratapi panantian masa depanmu. Tidak ada lagi binar-binar cahaya masa depan yang indah jika ibu melihat engkau yang sekarang seperti ini. Seberapa lama ibu harus memendam harapan yang tak kunjung terwujud dari seorang anak sepertimu?”

Aku ketika itu langsung menanggapi ungkapannya.

“ sebenarnya aku pun tak mau terlihat seperti ini di mata ibu, tapi percayalah bu. Suatu saat nanti pasti…” mataku berbinar menatap tajam meyakinkan ibu.

“Aku… bersama seluruh impian dan harapan ibu yang telah ibu sandarkan kepadaku akan menari merayakan keberhasilan yang Allah telah janjikan kepada orang-orang yang sabar dan senatiasa mengoptimalkan ikhtiar” kataku tegas.

Ibu kemudian menodongku dengan kata-katanya “tapi bukankah ibu sudah tua? Mungkin tidak seberapa lama lagi merasakan hidup bersamu, nak. Ingatkah ketika Bapakmu meninggal? Membekas suatu ras kehilangan yang sangat mendalam pada dirik kita. Sekarang, apakah engkau mau ibu menahan kekecewaan ini sampai akhir hayat ibu?”

Aku hanya tertunduk tanpa kata. Aku terhanyut dan entah apa yang kurasa ketika itu. Ketika itu aku bagaikan berdiri di tengah batu karang dan melihat ombak yang besar telah siap  mendekat dan menerjangku. Aku tak berdaya sama sekali.

Aku langsung mengangkat wajahku dan berkata kepada ibu.

“bu, jika ibu berpendapat bahwa paramater kesuksesan yang aku dapat hanya sekedar mendapat pekerjaan, hidup layak dan berbahagia di dunia. Aku sebagai anak sangat menyesali keadaan ini yang ternyata pendapatku sungguh jauh berbeda dengan pendapat ibu dalam memandang diary kehidupanku yang telah Allah rancang.  Kebahagiaanku adalah ketika aku dapat menjadi seseorang yang aku inginkan. Hidup dengan idealisme tanpa harapan semu yang berlebihan. Sungguh Allah lebih menyukai orang yang senantiasa mengutamakan untuk memaksimalkan ikhtiar bukan hasil belaka. Dan sekarang kita sedang diuji bu, oleh sang Arsitek kehidupan ini, apakah kita putus asa dalam bertawakal kepadanya atau tidak”

Ibu hanya terdiam, tanpa kata yang terucap beliau masih memendam keraguan untuk mengiyakan apa yang ku paparkan kepadanya. Namun beberapa saat kemudian tampak wajahnya tersirat senyum walau pun itu terasa berat untuknya. Pertanda bahwa ibu masih berada di pihakku. Ibu masih percaya akan sebuah idealisme yang aku yakini bisa menjadi tolakkan kesuksesan dalam kehidupanku.

“berjanjilah kepada ibu nak, bahwa engkau senantiasa berusaha optimal untuk berikhtiar meraih apa yang kau inginkan. Ingat ridho Allah terdapat pada ridho orang tua. Ibu tidak akan ridho melihat engkau terombang-ambing dalam ketidakpastian seperti ini” kata ibu bijak.

Aku hanya mengangguk dengan tatapan mata yang yakin. Aku berusaha meyakinkan ibu bahwa aku bisa menjadi apa yang ibu inginkan dan tidak akan pernah sekali pun tergerus oleh keputusasaan. Aku pun berucap.

“Terima kasih, bu !”

Aku beranjak ke kamar mencoba merefleksikan diri ini di tengah gemuruh kegundahan yang baru saja menerjang keistiqomahan hati ini setelah pembicaraan dengan ibu.

Gitar ini yang senantiasa menemani langkah mengarungi kesepian yang sering singgah di dalam sela-sela hidupku yang fana’ ini. Sungguh gitar ini tak pernah mengeluh mendengar kesahku ketika memainkannya. Senandung pilu yang kudendangkan seolah menggambarkan luapan kesedihan yang kuungkap. Aku tak pernah berharap ia memberikan tanggapan atau sebuah jawaban atas keluh kesahku. Aku hanya menginginkan gitar ini tetap setia berada di sampingku ketika aku ingin mengungkapkan kegundahan hati yang mengendap.

Tak lupa sebelumnya, kualirkan keluh kesah ini kepada sang Pencipta alam ini. Sebuah kesombongan yang luar biasa jika aku tidak mencurahkan kegelisahan ini kepadaNya. Padahal jika kita yakin akan sebuah keniscayaan bahwa Allah yang telah mengatur kehidupan ini dengan segala kesempurnaan di dalamnya. Tidak ada setitik makhluk yang ia ciptakan hidup tanpa hikmah, bahkan jika kita bertafakur, sungguh sebuah keagungan yang luar biasa tersurat di dalam setiap ruas kehidupan ini. Aku hanya dapat berharap, ini adalah satu dari segmen kehidupanku yang Allah limpahkan agar aku dapat memetik pelajaran dan mendewasakan jiwa ini secara menyeluruh.

Kegundahanku sedikit demi sedikit meluruh ketika kudendangkan dengan gitar kopong berwarna cokelat tua kusam karena beberapa kali kubawanya berkeliling kota menemaniku menghibur warga di sana. Debu dan asap gas karbon monoksida sudah menjadi warna yang khas menghiasi gitar ini.

Terlampau sumbang memang suara yang dihasilkan gitarku, namun ini menjadi sebuah lantunan nada yang menurutku harmoni keluar dan entah kenapa suaranya sangat padu dengan suaraku. Aku pun mendendangkan lagu “Sesuatu yang tertunda” yang dimainkan oleh seorang penyanyi kawakan idolaku Iwan Fals bersama Padi, seolah lagu ini mengalir bersama aliran darah dalam tubuhku:

Di sini aku sendiri menatap relung-relung hidupku

Aku merasa hidupku tak seperti yang ku imingkan

Terhampar begitu banyak warna kelam sisi hidupku

Seperti yang mereka tahu, seperti yang mereka tahu

Aku merasa disudutkan kenyataaan

Menuntun diriku dan tak sanggup ku melawan

Butakan mataku semua tentang keindahan

Menuntun diriku menantang sendiri ku

Temui cinta…

Lepaskan rasa…

Aku terhanyut dalam syahdunya lagu yang sedang kunyanyikan hingga mata ini terpejam dan meneteskan air mata. Betapau pun kuatnya diri ini, namun jika sedang berdiri di sebuah jurang keputusasaan. Tak akan berdaya diri ini untuk tetap bertahan kecuali jika kuikhlaskan semua ini hanya untuk Allah. Jika aku tak bergantung padanya, niscaya jurang yang sebentar lagi runtuh, meruntuhkan jiwa ini beserta segala asa yang tersimpan di dalamnya. Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang.

Sang surya sebagai sumber energi terbesar pada galaksi bimasakti ini mulai beranjak naik dari peraduan dan menampakan diri sedikit demi sedikit. Pagi itu aku mulai bersiap-siap untuk berangkat melaksanakan aktivitas yang mungkin sudah jarang aku lakukan beberapa waktu terakhir.

Pengamen atau pemusik liar yang tidak diundang – seringkali beberapa orang menyebutnya demikian. Itulah profesiku sementara yang aku geluti sejakku masih duduk di bangku SMA hingga kini. Pemusik independen itulah sebutanku untuk profesi ini. Aktivitas yang cukup menghasilkan uang menurutku walau aku sangat yakin bahwa hasil jerih payahku ini sebanyak apa pun yang kudapat tetap tidak dapat membuat ibu harus mengendorkan ikat pinggang. Ia masih tak dapat tenang jika aku belum mendapatkan penghasilan yang tetap.

Tak dapat ku pungkiri, aktivitas bermusik secara independen dari bus ke bus, terminal dan terkadang di rumah-rumah penduduk ini lebih aku senangi ketimbang jika  harus berangkat pagi kemudian pulang sore dengan seragam pabrik tertentu dan terkadang harus pulang larut malam karena harus lembur alias kerja tambahan. Bagiku kerja sebagai buruh pabrik dan industri terasa seperti kerja rodi modern  yang tidak ada bedanya seperti yang telah dicanangkan oleh kompeni selam tiga ratus lima puluh tahun dahulu. Apa lagi sekarang hampir sembilan puluh persen pemilik pabrik dan perusahaan industri adalah orang asing. Secara tidak langsung kita bekerja berpeluh keringat untuk mereka untuk memperkaya mereka bukan memperkaya kita, masyarakat Indonesia tapi memperkaya negara lain.

Itulah sebenarnya salah satu alasan aku masih setengah hati untuk menuruti kemauan ibu untukku bekerja pada perusahaan asing tersebut. Walau bagi ibu hidup sebagai buruh lebih layak dari pada pengamen jalanan tapi bagiku yang penting adalah kemuliaan dan kita sebagai bangsa Indonesia setidaknya mempunyai jati diri untuk mempertahankan idealisme-nya. Idealisme untuk mencintai bangsa ini, mencintai seluruh yang ada di dalamnya bukan justru menambah penderitaan serta kehinaan bangsa ini di  mata negara lain.

Bukankah sebenarnya menjadi buruh bagi mereka pihak asing tidak lain kita diperbudak menjadi bawahan dan dijadikan sapi perahan untuk dimanfaatkan. Jika sudah tidak produktif maka dibuanglah kita tanpa ada penghormatan sama sekali. Sungguh sangat naas sekali di mataku nasib sebagian besar buruh kontrak yang habis masa kerjanya. Ia berhentikan tanpa ada pesangon atau setidaknya ucapan terima kasih. Aku pikir mendendangkan lagu pilihan dan membawakannya kepada orang lain agar terhibur kemudian mendapat semacam apresiasi tanpa memaksa. Ini jalan hidup yang lebih aku sukai, walau terkadang banyak orang mencemooh dan menganggap hina pekerjaan ini. Hanya teringat sebuah kalimat indah yang berbunyi “if you do everything with a passion, you will enjoy it anyway”.

Tempat konser perdanaku hari ini adalah di dalam bus kota menuju pasar Johar. Aku naik dari pintu keluar tol Karawang barat. Hawa panas di dalam bus langsung menyambutku dengan hembusan angin yang tak kunjung menyejukkan. Berbagai macam aroma berbaur di sini, dari mulai parfume harum yang kurasa seorang pria borjuis duduk paling depan setelah supir itu yang menggunakannya. Sedangkan di belakang kuhampiri beberapa orang membawa bakul besar yang di dalamnya berisi bawang merah. Mereka adalah seorang petani yang mau menjual hasil panennya ke pasar.

Betapa ironis memang. Sebuah diorama yang menggambarkan ketimpangan status kehidupan telah tergambar dalam bus ini. Kondisi ini baru di dalam bus, tak dapat dibayangkan bagaimana kondisi di luar sana. Di kota metropolis sana yang terdapat beribu atau mungkin berjuta orang miskin harus rela membanting tulang mencari secarik uang kertas namun di sisi lain terdapat banyak orang dengan sangat mudahnya menghabiskan uang seenaknya. Tidak berimbang memang. Tapi inilah kehidupan.

Aku pun mulai berdendang mencoba menghadirkan sebuah hiburan walau pun kutahu tidak semua orang akan menyukainya. Aku melantunkan lagu Ebiet.

Roda zaman menggilas kita terseret tertatih-tatih

Sungguh hidup terus diburu, berpacu dalam waktu

Tak ada yang dapat menolong, selain yang di sana

Tak dapat yang yang membantu, selain yang di sana

Dialah Tuhan…

Aku sungguh terbawa mengalunkan lagu ini. Sangat kupahami lirik demi lirik, bait demi bait. Aku menikmatinya, dan berharap para penumpang pun merasakan sama dengan apa yang aku rasakan. Terdapat kesenangan tersendiri bagiku melantunkan beberapa tembang yang seharusnya menjadi renungan. Bukan sekedar bercuap-cuap tanpa makna dan akhirnya mendapat gaji buta alias uang dengan meminta paksa kepada penumpang walau mereka tidak menikmatinya.

Pada akhir bagian aku mengamen, sungguh ini adalah saat-saat yang paling kurasa berat untukku melakukannya. Meminta setitik apresiasi dari penumpang. Sungguh sangat berat diri ini merendah sedikit mengharap belas kasihan kepada sebagian orang yang menikmati nyanyianku. Namun sekali lagi, inilah hidup. Segala sesuatu pasti ada resikonya. Termasuk hal yang baru kukerjakan ini. Segera kumelepas topi cokelat kumel yang dari tadi bersarang di kepalaku. Aku bejalan ke barisan penumpang paling depan. Kuawali topi ini dengan melayangkannya pada seorang borjuis tadi yang duduk tepat di belakang sopir. Pertama kali ia menatapku dengan tatapan mata yang tajam. Sangat teliti sekali ia mengulitiku dengan pandangan yang tajam itu.

Tiba-tiba ia tersenyum dan mengeluarkan dompet yang tersimpan pada saku belakang. Berdebar sekali aku dibuatnya. Seolah ia akan memberikanku secarik uang kertas yang mungkin nominalnya lebih dari jumlah yang biasa aku terima. Karena aku berpikir tidak mungkin orang seperti ini menyimpan uang kecil atau bahkan uang receh di dalam dompetnya. Di tengah debar jantung ini yang tak kunjung teratur dan berirama. Aku melihat ia mengeluarkan secarik kertas dari dompetnya berwarna putih. Sambil tersenyum ia memberikan kertas itu dan memasukkan ke dalam topi yang telah kusediakan untuk manampung uang. Di dalam hatiku berteriak “Apa…? Hanya secari kertas!”. Aku segera bersitigfar, astagfirullah… tetaplah menjadi hamba yang qanaah. Menerima dengan lapang apa yang telah di dapat. Kemudian sebelum aku beranjak, kulemparkan senyuman tanda terima kasih kepada seorang pria borjuis tersebut.

Aku beralih ke beberapa tampat duduk penumpang selanjutnya. Banyak yang apatis dan banyak pula yang memberikan apresiasi walau pun hanya sebuah senyuman. Bagiku itu sudah cukup memuaskan nurani bermusikku. Bukankah yang terpenting adalah orang lain dapat terhibur, bukan seberapa besar penghasilan yang kudapat. Masalah rezeki adalah sebuah keniscayaan yang harus diimani datang dari Allah semata.

Ketika sampai sebelum persimpangan lampu merah pasar Johar Karawang. Aku segera bersiap-siap untuk segera beranjak turun dari bus. Kuucapkan terima kasih kepada kondektur yang mengizinkan saya masuk ke dalam bus. Ia hanya melemparkan senyuman sesaat sebelum pandangan meloncat kepada sekelompok orang yang mau naik di pinggir jalan, dan berkata “Cikampek… Cikampek… Cikampek langsung lewat tol!” sambil tangannya melambai-lambai memanggil calon penumpang tersebut.

Di persimpangan lampu merah aku turun. Kebetulan bus yang kutumpangi berhenti karena lampu beralih warna yang tadinya hijau menjadi merah. Panas terik matahari mulai terasa walau pun itu baru sepenggal naik. Sungguh inilah Karawang, kota yang bertemperatur tinggi. Ditambah dengan emisi gas yang dibuang seenaknya oleh kendaraan-kendaraan bermesin. Menambah suasana yang sangat tidak nyaman bagi para pendatang yang pertama kali datang ke kota ini.

Aku sangat penasaran tentang secarik kertas yang diberikan oleh seorang borjuis ketika di dalam bus tadi. Apa sebenarnya mau orang itu, mungkin mau meremehkan atau ia tak sadar bahwa yang diambil malah secarik kertas bukannya uang dari dalam dompetnya. Tak lama aku berpikir langsung ku masukkan kelima jemari tangan kananku kedalam saku tempat kumasukkan kertas dan beberapa uang recehan.

Ketika kudapati kertas itu, awalnya biasa saja. Kertas itu nampak beberapa tulisan hasil print out komputer. Setelah kuteliti dan kubaca, subhanallah… inilah jalan hidupku. Ternyata Allah memberikan sebuah titik terang karirku menjemput rezeki-Nya. Aku mendapatkan alamat perusahaan rekaman di daerah Pondok Gede. Sungguh terkejut diri ini, ternyata orang yang memberikan kertas ini adalah seorang pencari bakat khususnya penyanyi. Di bawah alamat studio tertulis nama beliau yaitu Opet Alatas, dan terdapat tulisan tangan di pojok kanan bawah “hanya untuk orang terpilih, kunanti engkau di studioku!”.

Sesaat aku langsung sujud syukur kepada Allah, ternyata orang yang tadi kuanggap seorang borjuis adalah Opet Alatas, mantan Basis GIGI band dan sekarang ia bermain di TICKET band. Salah seorang basis terbaik yang dimilliki oleh Indonesia saat ini.

Tak dapat kusembunyikan keriangan hati ini meraih sebuah asa yang kian dekat menjadi sebuah kenyataan. Rekaman dan memiliki album dan konser di panggung yang sebenarnya. Bukan di bus, pasar atau pun depan pagar rumah penduduk. Tidak pernah akan kusia-siakan kesempatan ini. Aku akan berikhtiar seoptimal mungkin, dan tak lupa memberitahukan ibu perihal kabar gembira ini.

Hari ini kulalui dengan semangat yang menggebu-begu disertai suka cita yang tak terkira. Tak pernah aku merasakan seperti ini sebelumnya. Ini sekali lagi adalah sebuah jawaban yang Allah berikan, sebuah bukti bahwa Ia tidak akan menelantarkan hamba-Nya begitu saja tanpa secuil pertolongan pun. Aku berdendang di pasar hingga sore hari menjelang asar. Seringkali kumenyanyikan lagu opick ‘alhamdulillah’.

Bersujud kepada Allah, bersyukur sepanjang waktu

Setiap langkahku seluruh hidupku semoga diberkahi Allah

Bersabar taat pada Allah, menjaga keikhlasannya

Semoga langkah ini, semoga raga ini diiringi oleh rahmatnya

Alhmdulillah wa syukurillah bersukur pada Mu yaa Allah…

-sekian-

Solli Dwi Murtyas

Juni 27, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

NINA BOBOK

Bisikan malam berupa jangkrik yang berdendang semakin membuat syahdu telinga ini untuk mendengarnya. Krik…krik, begitulah para betina dari kalangan mereka mengekspresikan sukacitanya mengisi suasana malam bersama puluhan penjantan dan anak-anak mereka lainnya. Kemudian suara tokek yang angkuh serta merta merusak kekhusyukan gendang telinga ini mendengar lantunan nada yang dinyanyikan para penghuni malam yang harmonis menyanyikan lagu pengantar tidur untukku. Para katak yang merasa terusik oleh sang tokek mengeraskan suaranya.
Kini tidak ada lagi sebuah keharmonisan nada dari mereka. Suara katak bersenandung kini volumenya melebihi suara lainnya. Dan ternyata sang tokek pun tak mau terkalahkan olehnya. Suaranya yang cempreng mengacaukan semua. Huh…dasar tokek ! aku berguman di dalam hati menelan kekecewaanku. Tak ada lagi lantunan nada yang padu.
Kelopak ini semakin berat untuk kubiarkan mata ini terbuka. Sesekali tertutup namun aku masih terjaga. Aku menanti ibu menghampiriku. Masuk ke kamarku dan duduk tepat di samping kanan tempat tidurku. Mengantarkan segelas susu putih yang biasa menjadi ramuan ibu untukku. Ramuan yang membuat tulang ini lebih kuat jika aku terbangun esok hari, katanya.
Di tengah perjuanganku dalam penantian maupun menahan rasa kantuk ini yang berusaha menidurkanku. Ibu ternyata telah berada di depan pintu kamarku. Senyumannya yang khas menghiasi wajah kemayunya. Sangat penuh akan kasih sayang. Di tangan kanannya memegang ramuan yang aku ceritakan tadi. Aku tak sabar.
“segeralah ibu duduk di sampingku dan aku akan segera meminum susu yang kau bawakan dan kau memulai menceritakan sesuatu kepadaku…” bisik hatiku mengekspresikan ketidaksabaranku. Untuk segera mendengar cerita dari ibu. Cerita yang selalu menemani detik-detik mata ini terpejam.
“Nak, minumlah dulu susu yang telah ibu buatkan spesial untukmu”. Kata-katanya lirih. Itulah ibu. Tidak akan membiarkanku terlelap sementara susu yang dibuatkan untukku ternyata tidak habis atau tidak diminum. Dengan kata lain, inilah syarat yang harus aku tunaikan sebelum ibu bercerita. Mempermainkan imajinasiku. Mengolahnya dengan lantunan kata yang yang lembut menjadi sebuah cerita yang sangat menarik.
“Bu, bisa kau jelaskan kondisiku ketika aku lahir?” pertanyaanku sangat polos kuharap jawabannya mengawali cerita hebat yang akan dibawakan oleh ibu.
“Dengan senang hati anakku. Ketika itu, kau telah terlahir di dunia yang fana ini. Dunia yang penuh senda gurau dan ketidakkekalan ini. Tangismu dulu sangat nyaring terdengar di awal kelahiranmu. Menandakan sebuah semangat baru dalam kehidupan ibu. Semangat untuk mengubah tangisan menjadi sebuah senyuman.”
Aku terlena dibuatnya. Sebuah sanjungan yang sangat menukik tajam ke atas hingga menerbangkan jiwa ini. menjadi kebanggaan yang tak terperi bagi diriku menjadi bagian yang begitu berarti bagi ibu.
“sebuah kebahagiaan yang tak ternilai melihatmu seperti ini anakku. Melihat senyummu yang lugu dan masih suci, sesuci hatimu. Ibu hanya bisa berharap kepada Allah Azza wa Jalla, agar dia selalu menjaga kesucian hatimu, membimbingmu, dan memberimu kekuatan agar kau mampu berpegang teguh pada aturan-Nya yang sempurna hingga akhir hayat kelak.” Lantunan kata-katanya lirih namun sangat bermakna dan membekas hatiku hingga kini.
Kelopak mata ini tak membiarkanku untuk terjaga lebih lama lagi. Walaaupun wajah ini mencerminkan kepolosan. Namun sebenarnya di balik kepolosan ini hati ini telah berazam untuk tidak memupuskan harapan ibu kepadaku. Sangat fatal akibatnya jika aku mengecewakannya, menyia-nyiakan amanah yang ia berikan kepadaku dengan penuh harap.
Membuat ia senang, itulah jalan bagiku untuk membuat ibu bahagia. Setidaknya tidak akan pernah bermain di luar lagi ketika hujan turun, menghabiskan nasi dengan sayur bayam walaupun hingga detik ini aku tak memungkiri bahwa aku tidak suka sayur bayam atau bahkan ketika disuruh mengaji di TPA, aku harus menuruti ibu yang sudah susah payah mengantarku dan menungguku hingga aku selesai walaupun seringkali aku sangat enggan berangkat ke sana dengan berbagai macam alasan yang salah satunya adalah sakit perut.
Ibu menyadari gerak-gerikku yang mulai tak dapat menahan untuk menjaga mata ini tetap terbuka. Namun, dengan penuh kelembutan, ia bisikkan ketelingaku untuk senantiasa berdoa sebelum aku terlelap. Sebelum mengakhiri ceritanya, aku dituntun oleh ibu untuk membaca doa tidur.
Bismikallahumma ahaya wa amuut…
Aku mulai terpejam. Terakhir kulihat wajah ibu tersenyum berseri sesaat sebelum mata ini benar-benar tertutup. Mengawali tidurku yang akan dihiasi oleh mosaik-mosaik mimpi yang tak pernah absen menemani tidurku. Diiringi selimut kehangatan yang telah dilumuri oleh kasih sayang ibu. Kuharap esok aku dapat melihat sosok yang sangat kusayangi itu menyambutku yang terbangun dari indahnya mimpi dalam tidurku.
* * *
mataku terbuka seiring dengan cahaya matahari yang semakin menembus jendela kamarku. Menyelinap menjamah wajahku sehingga secara reflek mata ini langsung merespon dengan mengerutkan kening sehingga nampak kedua alisku bersatu.
Suasana yang sangat berbeda. Tidak lagi seperti dulu. Di meja dekat tempat tidurku kini tak lagi tergeletak sebuah gelas dari susu yang dibuatkan ibu. Namun sekarang tergeletak di atasnya sebuah cangkir kopi. Yang di pinggirnya terdapat gambar wajah seorang wanita dengan dibatasi outline yang tebal berwarna hijau bertuliskan starbucks.
Kamarku kini seperti untaian kayu yang terpasang rapih melintang di setiap sisi-sisi dindingnya. Berwarna cokelat tua dengan hiasan yang digantung milik penghuni apartemen sebelumku. Terdapat sebuah jendela di sebelah selatan kamar yang berukuran dua kali tiga meter yang di lapisi oleh kaca bening. Terdapat lentera yang indah menghiasi sudut-sudut jendela tersebut berwarna hijau tua yang bermotif gugusan bintang berwarna putih dan kuning.
Aku beranjak dari tempat tidurku menuju ke jendela kamar. Sebuah kebiasaan memang sejakku tinggal di sini. Mengintip pemandangan di luar dari jendela. Sebuah pemandangan yang menakjubkan yang jarang sekali aku lihat sepanjang hidupku. Gugusan buih berwarna putih berhamburan di luar dengan sangat bebasnya. Menaburi seluruh halaman apartemen. Ini salju.
Pemandangan yang sangat elok. Terlihat bendera bergaris dengan corak merah putih dengan motif bintang di sudut atasnya tak kuasa melepaskan sergapan salju yang menyelimutinya. Tiangnya pun menjadi tempat bersarang sekumpulan gugusan putih itu sehingga nampat tiang seperti dilumuri tepung putih.
Dahan-dahan pohon pun tidak mau kalah memamerkan keindahannya. Dahan yang sudah tak berdaun itu, menjadi tempat bersemayamnya salju sehingga nampak sebuah paduan warna yang sangat elok. Cokelat kehitaman dengan warna putih terang yang menghiasi bagian permukaan atas dahan. Indah nian ciptaan-Mu ya Allah.
Setelah terpesona dengan pemandangan yang tidak sering aku temui sepanjang hidupku. Aku mengalihkan pandangan ke bawah sehingga terlihat jalan raya yang hitam pekat namun kotor oleh salju yang berkombinasi dengan pasir. Sehingga nampak jalanan sangat becek dan berwarna kecokelatan pada ruas bahu jalan. Banyak kendaraan melintas diatasnya. Becek namun teratur sehingga tidak ada sama sekali kesan semerawut seperti yang pernah kulihat di televisi.
Kendaraan-kendaraan tersebut mempunya plat nomor yang sangat unik. Walaupun setiap kendaraan memiliki nomor yang berbeda, namun terdapat kesamaan pada desain plat itu sendiri. Pada desain plat nomor tersebut tertulis di bawahnya dengan huruf berwarna merah Brush Script tertulis Massachusetts.
Setelah aku takjub dengan keadaan sekitar. Segera kubalikkan badan menuju pintu keluar kamarku untuk mandi dan bergegas berangkat kuliah di sebuah universitas di Boston. Aku melesat menyambar handuk yang ada di lemari di dekat meja samping kanan tempat tidurku dan selangkah kemudian aku membuka pintu kamarku. Ternyata terselip secarik surat yang dibungkus oleh amplop putih di mana terdapat perangko di bagian kanan atas bergambar salah satu presiden Republik Indonesia.
Tak aku ragukan lagi. Ini adalah sebuah surat yang kemungkinan dikirimkan oleh orang tua atau teman-temanku yang berada di Indonesia kini. Jiwa ini terhenyak sekaligus penasaran berbaur dengan suka cita karena mendapat kabar dari seseorang di Indonesia. Dan setelah ku balik amplopnya, ternyata ini adalah surat dari ayah.
Tanpa berlama-lama segera kubuka bungkusan plastik yang yang menyampul amplop bertuliskan Fedex dan sesaat kurobek ampopnya dengan sangat hati-hati agar tidak merusak kertas yang di dalamnya. Setelah kurobek, segera kubuka lembaran surat yang ditulis oleh ayah.
Kepada
adinda Putri Azizah
Anakku yang selalu kurindu

Assaalamualaikum
Apa kabar anakku? Semoga engkau masih senantiasa diberikkan rahmat dan karunia dari Allah sehingga dapat menjalani hari-harimu di negeri orang.
Sebuah surat yang mengejutkan, namun harapannya. Engkau tidak akan merasa gelisah atau kaget mendengar berita ini.
Sungguh sangat berat ayah tuliskan surat ini. Karena ibu tidak mengizinkan ayah sebenarnya untuk memberitahukan hal ini kepadamu, nak. Namun sebagai anak dan orang tua yang mempunyai ikatan batin, ayah kira ini adalah sebuah keharusan untuk engkau mengetahui hal ini.
Ibumu menderita kanker otak. Namun masih stadium 2 kata dokter. Walaupun demikian, akhir-akhir ini kondisi ibu sering jatuh lemas atau pingsan. Ayah sangat khawatir akan keadaan ibumu. Oleh karena itu, bolehkan kiranya kalau ayah meminta Putri untuk segera pulang ke Indonesia agar dapat bersama dan mengurusi ibu. Ayah sangat berat bila harus menemaninya sepanjang hari, mengingat ayah harus mengantarkan surat-surat dari kantor pos setiap hari.
Sekiranya Putri tidak dapat pulang, ayah sangat maklum karena ayah yakin engkau sedang sibuk-sibuknya kuliah. Namun sempatkanlah untuk senantiasa berdoa untuk kesembuhan ibu.

Ayah yang menyayangimu

BUDIYONO

Sesaat setelah membaca surat dari ayah tangan ini entah kenapa bergetar. Seakan terhujam sebilah anak panah yang menembus hati ini yang menyebabkan dadaku sesak tak terperi. Air mata ini meleleh membasahi kedua pipiku. Perasaan yang takjub kini berubah menjadi sebuah kehampaan.
* * *
Aku memutuskan untuk pulang kembali ke Indonesia dengan segenap pertimbangan yang ada. Diantaranya, ternyata aku masih mempunyai sisa tabunganku untuk membeli tiket pesawat ke Indonesia karena uang beasiswa yang diberikan setiap bulannya masih aku simpan di bank. Kedua, kondisi kerinduan dan kecemasan yang berada pada puncaknya sekarang kepada ibuku memaksaku untuk memikirkannya setiap saat. Jikalau aku tidak pulang, aku tidak akan pernah tenang belajar atau pun melakukan rutinitasku.
Sebuah intuisi yang kuat akhirnya aku membulatkan tekad untuk berangkat besok pagi dengan US Airways dan dilanjutkan dengan Malaysia Airlines setelah mencapai Kuala lumpur. Perjalanan akan sangat melelahkan bagiku yang hampir mengitari separuh putaran bumi. Namun demi kasih sayang yang tak ternilai, demi azam untuk tidak pernah sesekali lagi mengecewakan beliau aku rela melakukan semua ini.
Keesokkan harinya aku bertolak dari Boston Airport menuju ke London yang kemudian akan dilanjutkan ke Kuala lumpur. Perjalanan dari Boston menuju London dengan menggunakan US Airways memakan waktu sekitar delapan sampai sembilan jam. Sedangkan dari London Heatrow Airport aku harus berangkat menuju Kuala lumpur Airport. Perjalanan ini menyita waktu sekitar sepuluh hingga dua belas jam. Dan terakhir dari Kuala lumpur aku langsung bertolak ke Jakarta Cengkareng yang memakan waktu dua hingga tiga jam. Jadi secara keseluruhan aku akam melakukan dua puluh sampai dua puluh tiga jam perjalanan di udara.
Dalam perjalananku di dalam pesawat. Hati ini tak pernah terasa tenang. Teringat selalu segala kenangan tentang ibu. Segala ucapan lirih beliau serta segelas susu yang kini sangat kurindukan.
Di dalam hatiku aku berbisik
“Ibu, tunggulah aku…aku akan senantiasa menjagamu sebagaimana engkau telah menjaga lelapnya tidurku dengan selimut kehangatan cintamu”.
* * *
Setelah aku tiba di rumah, segera ayah menyambutku dengan sukacita berbaur haru. Ayah menjelaskan kepadaku bahwa kini ibu sedang dirawat di rumah sakit Bakti Asih di daerah Tangerang. Segera aku meletakkan koperku di kamarku. Aku takjub ketika pertama kali aku masuk ke kamarku setelah dua tahun aku pergi meninggalkan kamar beserta kenangan indah di dalamnya bersama ibu.
Tanpa istirahat aku bergegas menuju rumah sakit Bakti Asih bersama ayah yang memang sudah lama menunggu dengan motornya di depan. Hati ini masih tak tenang sebelum aku bertemu dengan ibu dan memastikan kondisinya masih baik-baik saja. Ayah seperti biasa, mengendarai sepeda motornya seperti mengendarai ketika ia bekerja mengantarkan surat. Balap sana-sini dengan kecepatan rata-rata delapan puluh kilometer per jam. Jilbal yang aku kenakan pun melambai-lambai tanpa arah dan terkadang hampir lepas jika aku tak memegangnya erat-erat.
Kami pun sampai, sekarang aku berada di dapen sebuah kamar rawat kelas ekonomi yang di dalamnya terdapat tiga pasien. Yang salah satunya adalah ibuku. Namun aku belum dapat memastikan di mana posisi ibu berbaring. Ku harap jika ia sedang tertidur, kedatanganku tak akan mengganggu kenyamanan tidurnya.
Aku masuk dan menyisir penglihatanku dari mulai pojok sebelah barat. Dan ternyata sekali aku melemparkan pandangan, aku langsung melihatnya sosok ibu yang sedang terbaring lemah tak berdaya. Aku segera melangkahkan kaki mendekati tempat ibu berbaring. Dan ternyata ia tidak tertidur. Matanya yang sayup sedikit melunturkan kesan kemayu yang menjadi ciri khas ibu dalam penglihatanku. Ketika ia melihat ke arahku, ia melemparkan senyum yang selama dua tahun aku tak pernah melihatnya lagi. Meskipun terlihat ibu sangat menahan sakit, namun ia berusaha tersenyum untuk membahagiakanku, menyambut kedatanganku.
Sangat haru kondisi jiwa ini. Ibu yang dulu sehat kini terbaring tak berdaya menahan rasa sakit yang tak terperi. Aku segera mendekat, segera genggam tangannya dan kucium. Kupeluk tubuh ibu yang terbaring tak berdaya di atas ranjang, berharap hangatnya kasih sayang yang dulu menyelimutiku kini kembali menyelimutinya.
Alhamdulillah kondisi ibu terlihat membaik setelah kehadiranku. Apalagi setelah ia mengetahui aku akan selalu menjaga dan menemaninya. Seakan ada sebuah titik cerah bagi ibu setelah hampir setengah bulan dirawat di rumah sakit. Kami pun bersenda gurau, aku yang sering banyak cerita kepada ibu tentang pengalamanku yang menarik ketika aku di U.S.
Hingga malam selepas Isya. Kami berdua setelah menjalankan solat berjamaah, segera mempersiapkan posisi kami untuk tidur malam ini. Dan akhirnya ibu memutuskan untuk membiarkanku tidur di bangku di samping ranjangnya dengan kepala ditidurkan tepat di sebelah kanan tempat ibu berbaring.
Aku sangat rindu masa-masa kecil yang sangat mengesankan dan penuh kenangan bersama ibu. Tepat seperti kondisi seperti ini. Hanya ada aku dan ibu dan ibu akan menceritakan hal atau suatu cerita kepadaku sebelum aku terlelap. Ternyata ibu pun sangat mengerti apa yang sedang aku pikirkan. Dengan segala kesediaannya, ia bercerita. Sungguh ini adalah sebuah kondisi yang sangat aku rindukan.
Di tengah ibu bercerita aku berinisiatif untuk merekam apa yang ibu ucapkan kepadaku dengan harapan jika nanti tertidur sementara ibu masih bercerita. Aku akan dapat mendengarkan ceritanya kembali setelah terbangun esok hari. Dan ternyata benar, karena aku hari ini belum sama sekali istirahat setelah melakukan perjalanan jauh. Aku tertidur tepat di samping ranjang di mana ibu terbaring. Namun terakhir aku tersadar beliau masih bercerita. Aku tak tahu apa yang ia ceritakan terdengar samar-samar karena mata ini terasa sangat berat. Dan akhirnya aku pun terlelap.
Keesokkan harinya ketika azan subuh berkumandang aku terbangun dari tidurku. Aku melihat jam ternyata menunjukkan pukul setengah lima pagi. Aku bergegas mengambil air wudhu. Sengaja aku tak membangunkan ibu karena aku tahu pasti dia tadi malam bercerita hingga larut. Aku akan membangunkannya setelah aku solat subuh agar ia mungkin mempunyai waktu istirahat yang cukup.
Setelah aku menunaikan solat subuh. Segera aku menuju ibu untuk membangunkannya. Namun sesekali aku bangunkan, sama sekali tidak ada respon. Wajahnya sangat kemayu. Bahkan lebih kemayu ketika aku melihatnya waktu kecil. Sesekali aku bangunkan ia kembali namun masih saja tidak ada tanda-tanda ia akan bangun. Segera aku mengecek urat nadinya. Dan seketika jantungku berdebar. Tubuhku pucat dan melemah.
Aku tak percaya tentang apa yang baru saja terjadi. Jantung ibu sudah tak berdetak lagi. Aku segera memastikan dengan memanggil dokter untuk memberikan keterangan yang mudah-mudahan saja prasangkaku salah total. Aku panik dan tak tahu harus berbuat apa. Sementara tim dokter yang baru saja tiba langsung mengecek kondisi ibu. Dengan perasaan sangat tak menentu, aku menanti kepastian dari dokter. Semoga tidak terjadi apa-apa yang membahayakan kondisi ibu.
Sesaat kemudian tim dokter selesai memeriksa dan menyatakan bahwa ibu telah meninggal sekitar jam sebelas tadi malam. Aku bagai terhujam seonggok besi berkarat yang langsung menusuk palung hati ini. Tak dapat berkata dan air mata ini meleleh. Mencoba tetap tegar namun hati ini tak bisa. Aku masih terkesima dan tak mampu berkata. Aku langsung menuju jasad ibu yang kaku. Aku segera memeluknya erat. Ibu telah pergi meninggalkan kenangan yang tak akan pernah aku kubur bersama jasadnya.
Setelah lama kupeluk jasad ibu. Aku menemukan MP3 player yang aku gunakan untuk merekam suara ibu ketika bercerita tadi malam. Aku hampir lupa menyadari ini. Segera ku set dan mainkan apa yang aku rekam tadi malam.
Tetaplah tersenyum nak, jangan menangis.
Semoga Allah Azza wa Jalla senantiasa melindungimu dari pikiran, niat, dan mata-mata jahat menjerumuskanmu pada kehinaan.
Harapanku, kelak kau dewasa nanti, kau menjadi wanita yang tetap istiqomah menjaga kesucian hati dan kehormatan diri.
Kau akan terombang-ambing dalam kubangan kenistaan dunia.
Pegang teguhlah ajaran Allah dan tataplah masa depanmu dengan tegar.
Insya Allah, doaku senantiasa menyertai langkah-langkahmu…

selesai

Juni 8, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Juni 8, 2009 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar